Kritisisme dan Intuisionisme

Kritisisme dan Intuisionisme

 

Berbicara tentang asumsi-asumsi prinsip kebenaran, tentunya kita akan bertemu dengan empat aliran, yatiu rasionalisme, empirisme, kritisime dan intuisionisme. Aliran yang pertama dan kedua saling bertentangan sedangkan aliran yang ketiga berusaha mendamaikan keduanya, adapun yang terakihir berusaha megumpulkan bukti-bukti logis akan sesuatu yang bersifat intuitif.

Pada pembahasan terdahulu telah kita bahas bagaimana kebenaran sebuah pengetahuan menurut pandangan dan asumsi kaum rasionalis dan empiris. Rasionalisme telah dimunculkan dan didalami oleh beberapa ilmuan , diantaranya Descartes, Leibniz dan Wolff. Descartes mengemukakan bahwa ada tiga bawaan (innate ideas) yang tidak diragukan lagi kebenarannya, yaitu pemikiran, tuhan dan keluasan; jika diamati, ketiga bawaan ini menunjukkan keyakinan Descartes terhadap kebenaran pikiran atau akal manusia lalu ia juga mengakui adanya peran Tuhan dalam menentukan suatu kebenaran dikarenakan Tuhan merupakan sebab adanya manusia dan akalnya sehingga ia menarik kesimpulan bahwa akibat tidak akan bisa melebihi sebab; manusia tidak bisa melebihi tuhan, meskipun begitu Descartes tetap mengutamakan akal sebagai pemilik porsi terbanyak dalam menentukan kebenaran suatu pengetahuan. Begitupun Spinoza yang secara tidak langsung mengakui tuhan sebagai subtansi yang clear and distinct.

Masih dalam ranah rasionalisme, Leibniz menamakan subtansi dengan monade, ia mengemukakan bahwa jiwa merupakan pusat-pusat kesadaran dan mengakui adanya kebenaran yang bersifat apriori, karena pemikirannya tentang jiwa maka Leibniz kemudian dikenal dengan logika modernnya. Ia menyatakan bahwa semua hal hanya bisa diketahui kebenarannya dengan dengan menerapkan dasar-dasar bawaan yaitu pemikiran, sehingga dia membagi kebenaran menjadi 2 yaitu kebenaran logis dan kebenaran fakta dan dari 2 kebenaran ini maka muncullah 2 jenis pengetahuan menurut Leibniz, yaitu pengetahuan pengetahuan yang yang menaruh perhatian pada kebenaran abadi dan logis serta pengetahuan yang sifatnya lebih sintetis berdasar pada pengalaman. Pemikiran Leibniz kemudian disempurnakan oleh Wolff, yang membagi pengetahuan menjadi 3 bidang yaitu kosmologi rasional, psikologi rasional dan teologi rasional.

Rasionalisme dengan ini menaklukkan wahyu, menganggap semua hal-hal termasuk agama dapat dijabarkan dan dijelaskan dengan akal. Apabila tidak bisa dijabarkan dan dijelaskan dengan akal manusia maka suatu pengetahun tidak dapat menghasilkan kebenaran yang mutlak.

Adapun empirisme yang dipopulerkan oleh Hume, yang sempat menentang unkonsistensi ahli empirisme lainnya. Ia menganggap bahwa, hukum kausalitas atau sebab akibat yang dikemukakan Descartes tidak dapat menunjukkan kebenaran yang mutlak karena, sesuatu yang menjadi sebab untuk yang lain pada satu saat mungkin juga tidak menjadi sebab dikala yang lain, itu hanyalah kebiasaan manusia yang selalu menghubung-hubungkan satu fenomena dengan fenmena lainnya. Hume juga mengutarakan bahwa hanya pengalaman indrawilah yang dapat memberikan kebenaran yang muthlak bukan subtansi.

Kedua aliran ini saling menguatkan urgumen masing-masing, keduanya memiliki kebenaran pada sudut pandang yang berbeda pula  sehingga keduanya saling bertentangan.  Aliran ketiga inilah yang akan berusaha mendamaikan rasionalisme dan empirisme dengan mengubah metode pemikiran secara radikal, aliran ketiga inilah yang oleh Immanuel Kant dinamai dengan kritisisme. Sementara itu, aliran keempat tetap berusaha membuktikan kebenaran secara mutlak dengan hal- hal yag bersifat intuitif. Dengan makalah ini, akan dibahas kritisisme dan intuisionisme.

  1. Immanuel Kant

Bebicara tentang kritisisme berarti berbicara tentang Immanuel Kant, karena Immanuel Kant-lah filosof pertama yang mencetuskan aliran kritisisme. Immanuel Kant lahir di Konigsberg, Jerman. Kant adalah orang yang sangat malas untuk bepergian, dia juga tidak begitu menyukai musik dan seni namun dia punya ketertarikan yang kuat pada matematika, logika dan ilmu. [1]

Filosof yang lahir tanggal 22 april 1724 ini menghabiskan hampir seluruh umurnya di kota Knigsberg, lahir di keluarga pembuat pelana kuda mengharuskan dia kuliah sambil bekerja menjadi guru privat di beberapa keluarga kaya di kota kelahirannya. Ia meraih gelar doktornya pada tahun 1755.[2]

Ada empat tahap perkembangan pemikiran Kant, yang pertama adalah yaitu ketika dia masih dipengaruhi oleh pemikiran Leibniz-Wolff melalui seorang guru di universitasnya, Maartin Knutzen yang tidak lain adalah murid dari Christian Von Wolff. Tahap kedua adalah ketika Kant dipengaruhi oleh David Hume, lalu pada tahap ketiga yang sering disebut “tahap kritik” hingga akhirnya Kant sampai pada tahap keempat yakni tahap dimana dia mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang berbau religi dan sosial.[3]

Kant memiliki banyak karya yang memiliki banyak pengaruh, diantaranya adalah tiga seri bukunya yang berjudul Critique, jilid pertama berjudul Critique of Pure Reason (1781), lalu yang kedua adalah Critique of Practical Reason (1788) dan yang ketiga adalah Critique of Judgement. [4]

  1. Dasar Pemikiran Immanuel Kant

Immanuel Kant tidak secara langsung memiliki pemikiran yang kemudian menjadi aliran filsafat yang dia sebut Kritisisme, namun seperti yang yang kita bahas diatas dia memiliki tahap perkembangan dalam pemikirannya. Dari situ dapat diketahui bahwa pemikirannya sempat dipengaruhi oleh Leibnez-Wolff kemudian David Hume. Hal yang patut kita tiru untuk selalu bersikap kritis, tidak langsung menerima atau bahkan menelan bulat-bulat segala sesuatu yang kita dapat atau kita ketahui meski itu bersumber dari seorang yang ahli sekalipun. Adalah Kant yang dengan kritis mengakui adanya sisi benar dari kedua aliran sebelumnya yang turut dia benarkan, namun ia tidak menafikkan adanya kekurangan dan kelemahan dari kedua aliran tersebut, sehingga berusaha mendamaikan pertentangan antara keduanya lalu menarik benang merah yang di sebut Krtisisme.

Kant hidup pada zaman dimana manusia berusaha mencari cahaya baru untuk kehidupan dari rasio mereka sendiri, dia menganggap zaman ini adalah zaman dimana manusia harus keluar dari kesalahan, yakni kepasifan dalam menggunakan akal sendiri sekaligus kecendrungan bergantung pada hal-hal diluar kemampuan diri sendiri seperti ajaran agama, wahyu ilahi, negara atau sekedar orang yang terkenal. Inilah yang sering kita sebut zaman Pencerahan.[5]

Pada zaman pencerahan, muncul paham Deisme yaitu suatu paham yang kemudian melahirkan apa yang disebut agama alam. Deisme mengakui adanya pencipta alam ini (Tuhan) namun setelah menciptakan Tuhan menyerahkan nasip alam pada dirinya sendiri, dengan kata lain akal adalah satu-satunya patokan kebenaran.

Puncak perkembangan pencerahan ini, justru membuat Kant gelisa, timbul banyak pertanyaan dalam dirinya. Apakah itu Tuhan?, Bagaiman manusia mempercayai Tuhan?, Apa hakikat dibalik hukum alam (metafisika)? dan seterusnya.

  1. Kritisime dan Epistemologi Kant

Kritisisme merupakan aliran filsafat yang menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia.[6] Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda corak dengan rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak. Kritisisme menjebatani pandangan rasionalisme dan empirisme, yang intinya ilmu pengetahuannya berasal dari rasio dan pengalaman manusia.

Kritisisme adalah merupakan penyejuk atas antinomy, kritisisme memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya.   

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kajian filsafat memiliki beberapa cabang. Mayoritas literatur mengelompokkan kajian filsafat menjadi tiga cabang, yaitu metafisika, epistemologi dan aksiologi. Metafisika atau sering kita dengar dengan ontologi terbagi menjadi teologi, kosmologi dan antropologi; sedangkan epistemologi bercabang menjadi logika dan filsafat ilmu; adapun aksiologi terbagi menjadi etika dan estetika.[7]

Makalah ini dengan sengaja mengemukakan bahasan tentang epistemologi, bukan ontologi atau aksiologi. Dikarenakan adanya hubungan yang erat antara epistemologi dengan filsafat ilmu, keduanya tidak sama namun identik; epistemologi juga merupakan awal mula dari rasionalisme dan empirisme.

Epistemologi  adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kesahihan pengetahuan.[8]

Dalam filsafatnya, Kant tidak memulai penyelidikan atas benda-benda sebagai objek, melainkan menyusuri struktur subjek yang akan membawa pengetahuan tentang objek. Atas dasar itu dia mengatakan bahwa menusia dengan akalnya yang aktif mengolah apa saja yang ia tangkap akan melahirkan pengetahuan. Inilah bentuk penyejukan terhadap antinomy antara rasionalisme dan empirisme. Filsafat Kant terbagi menjadi beberapa tahap, yang pertama adalah kritik atas rasio murni, lalu kritik atas rasio praktis dan yang terakhir adalah kritik atas daya pertimbangan.

  1. Kritik atas Rasio Murni

Kant menyatakan bahwa pengetahuan  memiliki ciri yakni umum,  mutlak dan memberikan pengertian baru. Dari pernyataan ini Kant membedakan tiga putusan.[9]

  1. Putusan analitis apriori; predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, seperti “setiap benda menempati ruang”.
  2. Putusan sintesis aposteriori; predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman inderawi, seperti “ meja itu bagus”.
  3. Putusan sintesis apriori; sumber pengetahuan yang bersifat sintesis namu juga bersifat apriori, seperti “segala kejadian mempunyai sebabnya”.

Menurut Kant putusan yang ketigalah yang merupakan syarat dasar ilmu pengetahuan (ilmiah) terpenuhi. Pengetahuan yang seperti ini bersifat sintesis; mencakup apriori dan posteriori dapat terjadi dalam tiga tahap, yakni penyerapan inderawi, akal budi dan intelek/ rasio.

Tingkat penyerapan inderawi disimpulkan Kant bahwa memang ada realitas yang terlepas dari subjek dan ada juga realitas dalam diri sendiri namun tidak dapat diamati dan diselidiki. Saat alat indrawi bekerja, secara spontan akal budi juga bekerja dengan menghubungkan data-data inderawi yang kemudian menghasilkan keputusan. [10]

Sekedar contoh sederhana, setelah air dipanansi dengan api maka air didalam bejan menadidih; ini merupakan penyerapan inderawi yang kemudian oleh akal budi diperoleh teori kausalitas. Sedangkan intelek bertugas menyimpulkan kedua tingkatan sebelumnya yakni penyerapan indrawi dan akal budi.

  1. Kritik atas Rasio Praktis[11]

Pada kritik atas rasio murni pembahasan terfokus pada syarat terjadinya pengetahuan yang sintesis apriori, selanjutnya Kant membahas tentang proses terjadinya perbuatan susila. Menurut Kant, perbuatan susila adalah perbuatan yang bermula pada rasa berkewajiban dengan segala kesadaran, sedangkan kesadaran terhadap kewajiban merupaka bentuk dari sikap hormat. Inilah yang menjadi pemicu utama perbuatan manusia.

Kenyataan adanya kesadaran itu diawali dengan kebebasan kehendak, immortalitas jiwa dan adanya Tuhan; ketiga hal ini disebut postulat rasio praktis. Disini Kant melibatkan Tuhan, seseorang yang mengikuti tatanan susila akan menerima pahala dari Tuhan, sehingga dengan Tuhan rsio praktis bekerja yang kemudian menghasilkan perbuatan susila.

  1. Kritis atas Daya Pertimbangan

Kritik atas daya pertimbangan berfungsi seperti timbangan antara kritik atas rasio murni dan kritik atas rasio praktis, sehingga menghilangkan kesan berbeda, bertentangan atau pun beda tingkatan. Ia hadir untuk menselaraskan antara keduanya dengan konsep finalitas atau tujuan yang bersifat subjektif dan objektif.

Menurut Kant tidak ada pengetahuan tentang objek itu (Jiwa) yang bergantung pada eksistensi manusia itu sendiri namun tidak juga termasuk bagian dari pengalaman, karena manusia tidak punya pengetahuan tentang jiwa.

  1. Hendry Louis Bergson dan Intuisionismenya

Hendry Louis Bergson, filosof dan evolsionis dari Prancis. Lahir di Paris 1859. Pada tahun 1900 menjadi professor College de France sampai 1921.[12] Filsafatnya sangat anti dengan materialisme dan mekanisme.

Intuisionisme, berasal dari bahasa Inggris: intuition, adalah pandangan bahwa manusia memiliki sebuah kacakapan, yang biasa disebut hati nurani, yang memampukan mereka untuk melihat secara langsung apa yang disebut benar atau salah, jahat atau baik secara moral.[13]

Aliran Yang dipelopori oleh Hendry Bergson, menururtnya intuisi adalah media untuk mengetahui secara langsung dan seketika dan pengetahuan yang didapat dengan intuisi merupakan pengetahuan yang sempurna. Meskipun begitu, dalam beberapa hal intuisi tidak mengingkari peran pengalaman inderawi.

Secara epistemologi, intuisi adalah proses mengetahui secara langsung, bukan sekedar objek tapi kebenaran atau hakikat suatu objek. Pengetahuan intuitif merupakan pengetahuan yang dikaruniakan Tuhan kepada seseorang dan hatinya sehingga terbukalah sebagian rahasia dan terbukalah realitas itu.[14]

Bergson membagi pengetahuan menjadi dua, yaitu pengetahuan mengenai (Knowledge about) dan pengetahuan tentang (Knowledge of). [15]

  1. Pengetahuan mengenai, merupakan pengetahuan diskursif atau simbolis karena diperoleh melalui simbol-simbol yang mencoba menyatakan kepada kita mengenai sesuatu dengan jalan menerjemahkannya, maka dari itu ia tergantung pada sudut pandang atau kerangka acuan tertentu.
  2. Pengetahuan tentang,, merupakan pengetahuan langsung sehingga bersifat intuitif. Pengetahuan ini berrada diatas pengetahuan yang bersifat lahiriah.

Bergson menyatakan bahwa intuisi pada hakikatnya merupakan instinc atau naluri yang menuntun kita pada kehidupan dalam (batin). Jika instinc ini dapat lebih meningkat maka akan berpengaruh pada hal-hal yang bersifat lahir, sehingga seseorang bisa mengetahui sesuatu yang vital atau nyata dengan dorongan dari dalam bukan dengan kemampuan intelek. Ini di sebut elan vital. [16]

Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses yang rumit, tiba-tiba saja dia sudah sampai pada tingkatan itu. Jawaban pertanyaan yang sedang dipikirkan muncul dibenaknya bagaikan kebenaran  yang membukakan pintu. Atau jawabanatas suatu masalah yang tidak kunjung kita temui jawabannya sehingga kita tunda mencarinya lalu tiba-tiba saja terbesit dalam pikiran kita lengkap dengan jawabannya, dan kita merasa yakin dengan kebenarannya namun tidak bisa kita jelaskan bagaiman kita bisa sampai pada tingkatan itu.[17]

Itulah intuisi, intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Intuisi tidak dapat diandalkan dalam hal menyusun pengetahuan dari awal secara teratur.  Namun Pengetahuan intuitif dapat diandalkan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidak suatu ernyataan yang dikemukakan.

Menurut Maslow, intuisi merupakan pengalaman puncak (Peak experience), menurut Nietzsche merupakan inteligensi yang paling tinggi.[18] Sedangkan dalam Islam pengetahuan intuitif dikenal dengan wahyu, yakni pengetahuan yang diberikana kepada nabi-nabi yang diaplikasikan dalam bentuk agama. Agama bukan hanya pengetahuan untuk waktu tertentu lebih dar itu agama merupakan pengetahuan yang mencakup masalah-masalah dimasa yang akan datang, hari kiamat dan penjelasan tentang proses penciptaan alam, manusia hewan maupun tumbuhan. Pengetahuan ini harus didasarkan atas kepercayaan atau keyakinan atau lebih sering kita dengan iman; iman kepada Allah, nabi, wahyu Allah maupun hal-hal yang bersifat gaib. Karena suatu pernyataan harus dipercaya dulu untuk kemudian diterima. Setelah diterima kemudian bisa diuji atau dikembangkan, atau juga dibuktikan dengan metode lain. Misalnya dengan cara rasional suatu pernyataan dapat dibuktikan kekonsistenannya atau dengan cara empiris dapart dikumpulkan fakta-fakta yang dapat mendukung pernyataan tersebut.[19]

  1. Kesimpulan

Immanuel Kant lahir di Konigsberg (Jerman), tanggal 22 april 1724. Pemikirannya sempat dipengaruhi oleh Leibnez-Wolff kemudian David Hume, dengan kritis Kant mengakui adanya sisi benar dari kedua aliran sebelumnya yang turut dia benarkan, namun ia tidak menafikkan adanya kekurangan dan kelemahan dari kedua aliran tersebut, sehingga berusaha mendamaikan pertentangan antara keduanya lalu menarik benang merah yang di sebut Krtisisme.

Kritisisme merupakan aliran filsafat yang menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda corak dengan rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak. Kritisisme menjebatani pandangan rasionalisme dan empirisme, yang intinya ilmu pengetahuannya berasal dari rasio dan pengalaman manusia.

Filsafat Kant terbagi menjadi beberapa tahap, yang pertama adalah kritik atas rasio murni, lalu kritik atas rasio praktis dan yang terakhir adalah kritik atas daya pertimbangan.

Hendry Louis Bergson, filosof dan evolsionis dari Prancis. Lahir di Paris 1859. Bergson membagi pengetahuan menjadi dua, yaitu pengetahuan mengenai (Knowledge about) dan pengetahuan tentang (Knowledge of).

Menururt Bergson intuisi adalah media untuk mengetahui secara langsung dan seketika dan pengetahuan yang didapat dengan intuisi merupakan pengetahuan yang sempurna. Meskipun begitu, dalam beberapa hal intuisi tidak mengingkari peran pengalaman inderawi.

Intuisi tidak dapat diandalkan dalam hal menyusun pengetahuan dari awal secara teratur.  Namun Pengetahuan intuitif dapat diandalkan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidak suatu ernyataan yang dikemukakan.

DAFTAR RUJUKAN

Muslih. Mohammad, Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, Cet. Ke-8, 2014)

Blackburn. Simon, Kamus Filsafat Edisi Kedua Revisi Dalam Bahasa Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, Cetakan ke- 1, 2013)

Ni’am. Dr. H. Syamsun  M. Ag., Tasawuf Studies Pengantar Belajar Tasawuf  (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014)

Tjahjadi. SP. Lili, Hukum Moral, Ajaran Immanel Kant tentang Etika dan Imperaif Kategoris, (Yogyakarta: Kanisius, 1991)

Asnawi. Ahmad, Sejarah Para Filsuf  Dunia 90 Pemikir Terhebat Paling Berpengaruh Di Dunia, (Yogyakarta: Indoliterasi, cet. Ke-1, 2014)

Suriasumantri. Jujun S.,  FILSAFAT ILMU Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: PT. Karya Uni Press, Cetakan Ke-7, 1993 )

http///FILSAFATILMU_20arerariena.html

http/// Tugas-tugasKuliah(Intuisionisme).htm

[1] Ahmad Asnawi , Sejarah Para Filsuf  Dunia 90 Pemikir Terhebat Paling Berpengaruh Di Dunia, (Yogyakarta: Indoliterasi, cet. Ke-1, 2014), hal. 126

[2] Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, Cet. Ke-8, 2014), hal. 69

[3] Ibid, hal 70

[4] Loc.cit, Ahmad Asnawi, hal. 126

[5] SP. Lili Tjahjadi, Hukum Moral, Ajaran Immanel Kant tentang Etika dan Imperaif Kategoris, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hal. 29.

[6] Dukutip dari Dian Nuzulia, (Just another WordPress.com site, Filsafat Ilmu, Waktu: Jum’at, 10.00 WIB).

[7] Mohammad Muslih, Pengantar Ilmu Filsafat, (Darussalam University Press: Ponorogo, Oktober 2014), hal. 31.

[8] Loc.cit, Dian Nuzulia.

[9] Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, Cet. Ke-8, 2014), hal. 73

[10] Ibid, hal. 74-76

[11] Ibid, hal. 77

[12] Simon Blackburn, Kamus Filsafat Edisi Kedua Revisi Dalam Bahasa Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, Cetakan ke- 1, 2013), hal. 97

[13] Dikutip dari Jelly page Tugas-Tugas Kuliah, Intuisionisme  (senin, 14 februari 2016, 14.00)

[14] Dr. H. Syamsun Ni’am M. Ag., Tasawuf Studies Pengantar Belajar Tasawuf  (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hal. 32

[15] Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, Cet. Ke-8, 2014), hal. 82

[16] Ibid, hal. 83

[17] Jujun S. Suriasumantri,  FILSAFAT ILMU Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: PT. Karya Uni Press, Cetakan Ke-7, 1993 ), hal. 53

[18] Ibid, hal. 53

[19] Ibid, hal. 54

Advertisements

One thought on “Kritisisme dan Intuisionisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s