BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kemajuan pendidikan Islam, tidaklah luput dari perjalanan sejarah yang panjang. Dimulai dari zaman Rasulullah Saw, pada zaman ini belum ada sekolah seperti bentuk sekolah yang kita saksikan sekarang yang ada hanya halaqoh-halaqoh yang diadakan hanya halaqoh-halaqoh kecil yang yang terdiri dari beberapa sahabat rasul yang ingin menjelaskan penjesan Rasul tentang berbagai hal seputar masalah agama baik dari aqidah, syari’at maupun akhlak.

Dari sini dapat dilihat bahwa masjid memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan, karena pada zaman Rasul masjid memiliki dua fungsi; fungsi sebagai tempat ibadah dan tempat menuntut ilmu. Hingga pada masa kepemerintahan Umar Bin Khattab, mulailah didirikan tempat belajar khusus untuk anak-anak tepatnya disebelah atau di pojokan masjid.[1]

Seiring dengan berkembangnya Islam, berkembang pula kebutuhan manusia dengan ilmu serta pengetahuan. Hingga sampailah pada masa kejayaan Peradaban Islam setelah rasul wafat, yaitu Dinasti Abbasiyah.

Dinasti ini terkenal dengan khalifah-khalifah yang sangat berperan dalam kemajuan Islam, diantaranya adalah Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur, Harun Ar-Rasyid, Al-Ma’mun dan sebagainya. Pada masa khalifah-khalifah ini Islam mengalami kemajuan diberbagai bidang; ekonomi, ilmu pengetahuan, sosial, politik mapun budaya.

Bani Abbasiyah memiliki kontribusi yang sangat penting dalam kemajuan ilmu pengetahuan khususnya bagi umat islam. Pada pembahasan ini pemakalah akan membahas tentang sejarah singkat Bani Abbasiyah serta perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu Filsafat; siapa saja ahli ilmu filsafat pada zaman itu, karya-karya apa saja yang dihasilkan.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Sejarah Bani Abbasiyah
  2. Awal Berdirinya Daulah Bani Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah dimulai setelah runtuhnya Dinasti Umayyah yaitu pada tahun  132-656 / 750-1258 M. Kurang lebih dinsati ini berkuasa selama 5 abad, adapun pusat atau ibukotanya adalah kota Baghdad. Dinasti ini dinamakan Abbasiyah karena pendiri dan khalifahnya merupakan keturunan Abbas bin Abdul Mutholib yang merupakan paman nabi.

Gerakan penyerangan Daulah Abbasiyah tidak dilakukan secara tiba-tiba tetapi telah dilakukan sejak lama secara diam-diam ditiga kota pusat awal pergerakan pemberontakan mereka, yaitu Humaimah, Khurrosan dan Kufah. Humaimah dan Khurrosan merupakan tempat Bani Hasyim bermukim sedangkan Kufah merupakan tempat kelompok Syiah pendukung Ali bin Abi Tholib yang secara terang-terangan memusuhi Bani Umaya.

Puncak dari pemberontakan ini adalah perang besar yang terjadi antara Abul Abbas dan Marwan bin Muhammad, yang dimenangkan oleh Abul Abbas maka dengan jatuhnya Syiria dan terbunuhnya Khalifah Marwan bin Muhammad runtuhlah Daulah Bani Umayah.

  1. Pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah

Melihat dari awal mula pergerakan Dinasti Abbasiyah dapat dikatakan bahwa perpindahan kekuasaan ini bukan sekedar pergantian dinasti tapi lebih daari itu; ini merupakan perombakan struktur pemerintahan bahkan ideologi.

Pada awal berdirinya, Dinasti Abbasiyah mengantisipasi keamanan daulah dengan memperhatikan dua hal. Pertama adalah berlaku tegas bahkan keras terhadap Bani Umayyah dan yang kedua adalah menempatkan orang-orang persia pada posisi penting dalam tatanan kepemerintahan.[2]

Pada masa Khalifah AL-Manshur, demi kestabilan kepemerintahan ia memindahkan Ibu Kota dari Al-Hasyimiyah ke Baghdad yang letaknya dekat dengan bekas ibukota Persia. Sangat berbeda dengan Bani Umayyah yang sangat tertutup mengkhususkan kaum Arab pada pemerintahan.Hal ini merupakan bentuk politik “balas budi” yang terususng karena orang-orang persia sangat berperan dalam kemenagan Dinasti Abbasiyah.

Salah satu bentuk real dari revormasi Dinasti Abbasiyah adalah perubahan tatanan pemerintahan. Khalifah meletakkan beberapa pejabat pada badan Yudikatif dan eksekuti, mengangkat hakim, menentukan Kepala Sekertaris dan juga memilih seorang wazir atau perdana mentri.

Durasi kekuasaan Dinasti ini terhidung lama yaitu sekitar lima abad, dalam jangka waktu tersebut terhidung 37 atau 38 khalifah yang menjabat. Dinasti ini dibagi menjadi beberapa periode.   Pada periode pertama inilah kejayaan berkiar hingga kekuasaan Al-watsiq. Adapun periode-periode selanjutnya, khalifah-khlaifah masih berkuasa tetapi tidak sehebat pada awal berdirinya.

  1. Kemunduran Daulah Bani Abbasiyah

Beberapa faktor yang menyokong kemundura Dinasti Abbasiyah antara lain adalah adanya perpecahan antar bangsa yaitu Bani Abbasiyah sendiri dan orang-orang Persia yang menginnginkan posisi raja dan pengurus negara lainnya hanya dari bangsa mereka, kemunduran ekonomi yang dipengaruhi oleh kemunduran politik, konflik keagamaan serta ancaman dari luar.

Diantara penyebab runtuhnya daulah abbasiyah adalah sebagai berikut.

  1. Keluarga Abbasiyah mengutamakan dan memberikan jabatan yang penting kepada bangsa persia sehingga bangsa Arab membenci khalifah-khalifah dan menjauhkan diri.
  2. Permusuhan antar Bani Abbasiyah dan kaum Alawiyyin yang sebenarnya juga memiliki kontribusi dalam merebut kekuasaan Umayah sehingga menimbulkan rasa benci dan dendam pada kaum Alawiyin terhadap mereka.
  3. Adanya perselisihan tentang paham agama.
  4. Rapuhnya sistem bernegara disebabkan oleh pengangkatan dua putra mahkota yang menimbulkan persengketaan di lingkungan khilafah sendiri.
  5. Kepercayaan kepada bangsa Turki sebenarnya juga ingin merebut khilafah.[3]
  6. Perekembangan Ilmu Pengetahuan pada Dinasti Abbasiyah

Meskipun kekuasaan Bani Abbasiyah cukup lama dengan 37 khalifah namun tidak semua periode dari khalifah-khalifah ini mendatangkan kemajuan, beberapa juga justru tergolong tidak memberi kontribusi yang berarti. Menurut beberapa sejarawan, Bani Abbasiyah dibagi menjadi 3 peride; periode pertama terdiri dari 10 khalifah yang mayoritasnya memberikan kontribusi yang sangat berarti khususnya pada bidang keilmuan.

Pada periode pertama inilah dasar-dasar pemerintahan diletakkan serta  perombakan dari berbagai bidang mulai dilakukan, termasuk dalam bidang keilmuan. Pada periode ini setiap orang diberi kebebasan untuk mempelajari dan mendalami berbagai disiplin ilmu, HAM mutlak diakui bahkan kegiatan ini difasilitasi dengan berbagai buku yang didatangkan dari negara yang bahasanya juga berbeda-beda kemudian buku-buku tersebut diterjemahkan kedalam bahasa arab sehingga semua orang dapat membaca dan memeprlajari buku-buku tersebut.

Pada masa kekhilafahan Kholifah Al-Mansur, terjadi gerakan penerjemahan yang sangat spektakuler. Gerakan ini didasari oleh besarnya perhatian Khalifah terhadap ilmu pengetahuan, sehingga dibangunlah Baitul Hikmah, sebagai pusat gerakan keilmuan. Disana merupakan tempat membaca, belajar, menulis serta menerjemahkan buku-buku berbahasa asing kedalam bahasa Arab.

Setiap orang diberi kebebasan berfikir dan mendalami ilmu pengetahuan apa saja yang diinginkan. Tidak heran jika pada masa ini banyak ulama-ulama yang tidak hanya ahli dalam bidang ilmu agama tetapi juga ilmu pengetahuan seperti astronomi, kedokteran, filsafat, fisika, kimia, aljabar dan lain sebagainya.

Diantara ulama-ulama terkenal pada masa Abbasiyah adalah Imam Malik, Imam Syaf’ie, Imam Hanbali serta Imam Hanafi yang merupakan ahli ilmu fiqih, Wasil Bin Atho’; murid dari Hasan Al-Basri yang merupakan pelopor lahirnya aliran Mu’tazilah, Abu Ishak Al-Kindy, Abu Bakar Ar-Razi, Ibnu Jarir At-Thobari dan masih banyak lagi[4]. Semua ulama tersebut merupakan ahli dalam disiplin ilmu yang berbeda-beda namun semuanya tetap berdasar pada Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Saw.

Berpusat di Baghdad, Dinasti membolehkan siapapun yang ingin menetap disana untuk menetap karena itula Baghdad disebut sebagai Kota  Internasional; didalamnya bercampur berbagai macam unsur baik itu Arab, Persia, Turki, Romawi, maupun Qibthi.

Khalifah sangat memuliakan imu pengetahuan sehingga para ulama di beri kebebasan dalam berijtihad dalam berbagai disimplin ilmu sehingga tidak ada lagi budaya taqlid; karena itulah kemajuan tidak terelakkan lagi baik dalam pengetahuan umum maupun agama. Sebagai buktinya;

  1. Dibentuk Korps Ulama yang anggotanya terdiri dari berbagai negara dan berbagai agama yang bertugas menerjemahkan, membahas, dan menyusun sisa-sisa kebudayaan kuno, sehingga pada masa itu muncullah tokoh-tokoh muslim yang menyebarluaskan agama Islam dan menghasilkan karya-karya yang besar.
  2. Didirikanlah Baitul Hikmah sebagai pusat penterjemahan, penelitian dan pengkajian ilmu pengetahuan baik agama maupun umum.
  3. Didirikan ‘Majelis Munazarat’ yaitu suatu tempat berkumpulnya para sarjana muslim, untuk membahas ilmu pengetahuan.

Pada masa ini banyak ilmu pengetahuan yang lahir sebagai hasil dari penelitian-penelitian oleh para ulama serta gerakan penerjemahan buku-buku dari berbagai negara.

  1. Perkembangan Ilmu Filsafat Pada Dinasti Abbasiyah.

Teori-teori tentang sebuah pengetahuan tidaklah dapat ditemukan kecuali dengan jalan berfikir. Ilmu filsafat adalah induknya ilmu pengetauan yang darinya lahir berbagai macam disiplin ilmu. Falsafat atau filsafat adalah merupakan kata yang berasal dari bahasa yunani yaitu philosophia sebagai gabungan dari philein yang berarti ”cinta“ dan shoppos yang berarti “hikmah“. Kemudian philosophia masuk kedalam bahasa arab menjadi Falsafat yang berarti cara berfikir menurut kogika dengan bebas, sedalam –dalamnya sampai kepada dasar persoalan.

Kita mengetahui bahwa filsafat di temukan oleh para failusuf Yunani yang kemudian di pelajari oleh para ulama islam melalui gerakan penerjemahan buku-buku Yunani kedalam bahasa Arab. Filsaat pertama kali ditemukan di Yunani oleh beberapa tokoh seperti :

  1. Teles, mempunyai dasar pemikiran tentang kosmologi atau alam semesta. Pemikirannya memiliki sisi kebenaran menurut Al-Qur’an, yaitu kesimulan bahwa “ alam semesta semua bermula dari air”

و كان عرشه على الما ء

  1. Pitagoras, yang mempunyai filsafat matematika dimana pemikiran selalu didasari dengan angka, yang kesimpulannya adalah semua bisa diurai dengan bilangan.
  2. Aristoteles/Bapak logika, filsafatnya berpangkal pada analistis dialektika tantang pengetahuan berpikir yang mendasari lahirnya logika

Semangat observasi dan empirisme yang muncul bersamaan dengan adanya filsafat ini membantah argument-argument gereja sehingga muncullah gerakan skularisme yakni gerakan anti agama. Para pendeta menantang filsafat secara keras karena dinilai mengganggu kegiatan dan ajaran-ajaran gereja. Masa ini di sebut zaman kegelapan diamana filsafat dimusnahkan lalu mereka mengirim buku-buku tentang filsafat ke negeri islam bermotifkan agar islam dapat terganggu dengan kehadiran filsafat.

Tapi kiriman ini justru disambut baik oleh Khalifah Ma’mun pada kepemimpinan Daulah Bani Abbasiyah yang kemudian mengadakan gerakan penerjemahan secara besar-besaran. Kehadiran filsafat sangat diminati oleh para ulama sehingga muncullah berbagai cabang dan aliran filsafat ditambah lagi gerakan filsafat ini juga di dukung oleh pemerintah daulah.

Meskipun mendapat dukungan positif dari pemerintah daulah, filsafat Yunani tidak langsung ditelan bulat-bulat oleh para ulama melainkan dipilah terlebih dahulu manakah yang sesuai dengan pedoman Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits, adapun perbedaan antara Filsafat umum dan filsafat umum secara singkat adalah sebagai berikut.[5]

Filsafat islam Filsafat umum (yunani)
a.       Menggunakan wahyu untuk mencapai sebuah kebenaran.

b.      Didasari iman dan aqidah sehingga kesimpulannya  menuju pada kebenaran

c.       Menyuruh untuk tadabbur dan tafakkur.

a.       Menggunakan akal/ logis Dimulai dengan keragu-raguan dan ketidak pastian

b.      Tetapi perbedaan watak dasar filsafat Yunani yaitu beberfikir secara sistematis, radikal, dan universal atau menyeluruh tanpa batas.

 

  1. Ahli Filsafat Islam Pada Dinasti Abbasiyah[6]
  1. Al-Kindi (185-252 H/805-873 M), terkenal dengan sebutan ‘Filosof Arab’, beliau menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab. Bermacam-macam ilmu telah dikajinya, terutama filsafat. Al-Kindi bukan hanya filosof, tetapi juga ahli ilmu matematika, astronomi, farmakologi, dan sebagainya.
  2. Al Farabi (180-260 H/780 – 863 M), beliau menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab. Al Farabi banyak menulis buku mengenai logika, matematika, fisika, metafisika, kimia, etika, dan sebagainya. Filsafatnya mengenai logika antara lain dalam bukunya “Syakh Kitab al Ibarah Li Aristo”, menjelaskan logika adalah ilmu tentang pedoman yang dapat menegakkan pikiran dan dapat menunjukkannya kepada kebenaran. Dia diberi gelar guru besar kedua, setelah Aristoteles yang menjadi guru besar pertama. Buah karyanya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa.
  3. Ibnu Sina (Abdullah bin Sina) (370 – 480H/980 – 1060 M). Di Eropa dikenal dengan nama Avicena. Sejak kecil ia telah belajar bahasa Arab, geometri, fisika, logika, teolog Islam, ilmu-ilmu kedokteran dan Islam. Beliau seorang dokter di kota Hamazan, Persia, yang aktif mengadakan penelitian tentang berbagai macam jenis penyakit. Beliau juga terkenal dengan idenya mengenai faham serba wujud atau wahdatul wujud, juga ahli fisika dan ahli jiwa. Pada usia 17 tahun ia sangat terkenal. Karangan Ibnu Sina berjumlah lebih dari dua ratus buku, yang terkenal antara lain: Asy Syifa; buku ini adalah buku filsafat, terdiri atas empat bagian yaitu logika, fisika, matematika, dan metafisika, kemudian Al-Qanun atau Canon of Medicine; buku ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan pernah menjadi buku standar untuk Universitas-universitas Eropa sampai akhir abad ke-17.
  4. Ibnu Rusyd, dilahirkan di Cardova pada tahun 250 H/1126 M dan meninggal dunia tahun 675 H/1198 M. Dia dikenal di Eropa dengan nama Averoes. Dia adalah ahli filsafat yang dikenal dengan sebutan bapak Rasionalisme. Dia juga ahli ilmu hayat, ilmu fisika, ilmu falak, ilmu akhlak dan juga ilmu kedokteran, ilmu fikih. Karyanya antara lain: a. Fasul Maqal fima Baina al Hikmati Wasyari’at Minal Ittisal. b. Bidayatul Mujtahid c. Tahafutut Tahafud d. Fikih. Karangan beliau hingga kini masih banyak dijumpai di perpustakaan Eropa dan Amerika.

Diantara ulama yang berkontribusi dalam penerjemahan ini adalah Yusuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi. Ia merupakan kuturunan suku Kindah, ayahnya Ishaq bin Shabah merupakan penguasa Kufah pada zaman Al-Mahdi dan Ar-Rasyid.[7] Al-Kindi sangat gemar dalam mendalami berbagai ilmu pengetahuan  khususnya filsafat, ia merupakan pendukung gerakan penerjemahan buku-buku Yunani kedalam bahasa Arab, ia mengawasi sejumlah murid dalam menerjemahkan buku-buku Yunani kemudian juga mengoreksi terjemahan yang telah diterjemahkan.

Kemudian ia mengarahkan filsafat muslim ke arah kesesuaian antara filsafat dan agama melalui perpaduan antara akal dan agama. Kalau di gariskan maka, filsafat berlandaskan akal sedangkan agama berdasarkan wahyu. Logika (mantiq) merupakan metode filsafat sedang iman merupakan kepercayaan kepada hakikat yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagaimana diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya. Apa yang telah dinyatakan dalam al-Qur’an merupakan satu ilmu yang mesti dipelajari melalui akal dan keimanan.[8]

Sebenarnya filsafat telah banyak dikaji oleh ulama Islam, meskipun begitu tidak semua mendukung dan menyetujui keberadaan filsafat untuk dikaji oleh umat muslim dikarenakan alasan-alasan tertentu.

Imam Ghazali adalah salah satu ulama yang gerah dengan munculnya filsafat karena ada beberapa pemikiran yang dinilai ada tiga faktor pemikiran yang dapat mengkafirkan para failusuf, salah satunya adalah pemikiran bahwa alam semesta diciptakan bersamaan dengan Allah (dalam bukunya tahafutul falasifah). Sehingga dia orang-orang mengharamkan filsafat dan mulai kembali beralih pada tasawuf. Namun begitu Imam Ghazali tidak menentang mantiq dan ilmu kalam karena menurutnya belajar logika perlu untuk bisa melawan serangan musuh dengan argument yang logis.

Tetapi di Andalus hanya ada sedikit yang percaya akan pendapat Imam Ghazali, bahkan Ibnu Rusy menantang keras pendapat tersebut karena Imam Ghazali hanya mengkaji filsafat Ibnu Sina yang ternyata masih rancu atau dengan kata lain masih banyak kesalahan di dalamnya.

Bahkan Ibnu Taimiyah seorang yang ahli dalam bidang ilmu tasawuf, ilmu kalam dan filsafat berani mengkritik keduanya  hingga dia dipenjarakan dan mati disana. Walaupun begitu, dapat dikatakan bahwa kritik  Ibnu Taimiyah merupakan yang paling bagus karena berdasar pada Al-Qur’an dan hadist. Kritikan Ibnu Taimyah terdapat pada beberapa hal, yakni

  1. Hubungan filsafat dengan agama

Ibnu Rusy mengemukakan dalam bukunya فصل المقال فيما بين الشريعة و الحكمة , bahwa filsafat dan dan agama/ islam adalah serasi dengan alasan bahwa keduanya sama-sama bermuara pada kebenaran.

Ibnu taimiyah membantahnya karena para failusuf saja saling tidak setuju satu sama lain dan ragu-ragu, sama sekali tidak bersatu. Lalu bagaimana filsafat dapat disatukan dengan agama.

Ibnu Rusy juga mengemukakan pendapat bahwa orang yang belajar filsafat/hikmah memiliki taraf pemikiran tertinggi seperti belajarnya para nabi. Hal ini jelas dibantah Ibnu Taimiyah karena menurutnya wahyu dan pikiran tidak sama.

  1. Qidamul alam

Teori emanasi mengatakan bahwa alam semesta ada bersamaan dengan adanya Tuhan. Juga menolak teori ini tapi dengan argument yang kurang masuk akal yaitu ada fase dimana Allah sendiri. Lalu Ibnu taimiyah membetulakan bahwa memang ala mini adalh hawadist/ ciptaan tapi tidak benar adanya fase Allah sendiri.كل يوم هو في شأن  dan  كن فيكن

  1. Logika/ tingkatan pola pikir

Ibnu Rusy dari Ibnu Sina mengemukakan 3 pola pikir ; yaitu burhany (بااحكمة ), diskusi (و جادلهم بالتى هي أحسن) dan keterangan-keterangan untuk orang awam (موعظة الحسنة). Menurut Ibnu Taimiyah tingkatang pola pikir itu tidak ada tapi yang dimaksud dengan بااحكمة adalah orang yang mengerti kebenaran dan mengikutinya sedangkan و جادلهم بالتى هي أحسن adalah orang yang tahu kebenaran tapi tidak mengikutinya sehingga harus di tentang, dan yang terakhir موعظة الحسنة adalah orang yang tdak tahu kebenaran sehingga harus diberi pemahaman.[9]

 


BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dinasti Abbasiyah dimulai setelah runtuhnya Dinasti Umayyah yaitu pada tahun  132-656 / 750-1258 M. Kurang lebih dinsati ini berkuasa selama 5 abad, adapun pusat atau ibukotanya adalah kota Baghdad. Dinasti ini dinamakan Abbasiyah karena pendiri dan khalifahnya merupakan keturunan Abbas bin Abdul Mutholib yang merupakan paman nabi.

Beberapa faktor yang menyokong kemundura Dinasti Abbasiyah antara lain adalah adanya perpecahan antar bangsa yaitu Bani Abbasiyah sendiri dan orang-orang Persia yang menginnginkan posisi raja dan pengurus negara lainnya hanya dari bangsa mereka, kemunduran ekonomi yang dipengaruhi oleh kemunduran politik, konflik keagamaan serta ancaman dari luar.

Khalifah sangat memuliakan imu pengetahuan sehingga para ulama di beri kebebasan dalam berijtihad dalam berbagai disimplin ilmu sehingga tidak ada lagi budaya taqlid; karena itulah kemajuan tidak terelakkan lagi baik dalam pengetahuan umum maupun agama.

Filsafat merupakan ilmu yang mengantarkan seseorang untuk mengetahui hakikat segala sesuatu. Dari filsafat terlahir berbagai teori maupun disiplin ilmu yang bermacam-macam, filsafat juga melatih seseorang untuk berfikir lebih mendalam,menyeluruh dan tertip.

Diantara ulama ahli filsafat pada Dinasti Abbasiyah Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Rusy dan lain sebagainya. Ulama-ulama ini memberikan kontrbusi yang sangat besar terhadap perkembangan Filsafat Islam pada zaman kita sekarang, terbukti dengan keberadaan karya-karya mereka yang masih eksis digunakan sebagai warisan berharga untuk dunia filsafat khususnya dan dunia pengetahuan umumnya.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Al-Qur’an Al-Karim

Mansur. Abdullah,  Perkembangan Politik Dan Ilmu Pengetahuan Pada Dinasti Abbasiyah, STIMED Palapa Makassar.

Bagian Kurikulum KMI PMDG, Tarikh Islam 1, Cetakan ke-2, Ponorogo 1425 H

Dr. H. Mahmud, M.Si, Psikologi Pendidikan, CV Pustaka Setia, Bandung, Cetakan kedua (2012)

http://pendidikan60detik.blogspot.com, 2015

Yanti. Syafieh, Filsafat Kindi, http://Syafieh.blogspot.com, 1 april 2013

تاريخ الأدب العربى الجزء الثانى المقرر للصف السادس، دار السلام للطباعة والنشر، فونوروكو

عبد الرحمن النحلوى، أصول التربية الإسلامية وأساليبها في البيت والمدرسة والمجتمع، دار الفكر، دمشق، الطبعة الثامنة والعشرون، 2010/1431

[1] عبد الرحمن النحلوى، أصول التربية الإسلامية وأساليبها في البيت والمدرسة والمجتمع، دار الفكر، دمشق، الطبعة الثامنة والعشرون، 2010/1431، ص. 119

[2]Abdullah Mansur,  Perkembangan Politik Dan Ilmu Pengetahuan Pada Dinasti Abbasiyah, STIMED Palapa Makassar.

[3] Tarikh Islam 1, Bagian Kurikulum KMI PMDG, Cetakan ke-2 1425 H, Ponorogo, hal. 127

[4] تاريخ الأدب العربى الجزءالثانى المقرر للصف السادس، دار السلام للطباعة والنشر، فونوروكو، ص. 2-4

[5]Materi Kuliah Pengantar Filsafat, Ahmad Suharto, M.Pd, 2014, Ngawi.

[6] http://pendidikan60detik.blogspot.com, 2015

[7] Dr. H. Mahmud, M.Si, Psikologi Pendidikan, CV Pustaka Setia, Bandung, Cetakan kedua (2012), hal. 170.

[8] Filsafat Kindi, Syafieh Yanti, http://Syafieh.blogspot.com, 1 april 2013

[9] Materi Kuliah Pengantar Filsafat, Ahmad Suharto, M.Pd, 2014, Ngawi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s